Selasa, 08 Januari 2013

ARTI SEBUAH KERINDUAN


Yang terucap dengan lidah kita, tentang Allah SWT, ridho Allah SWT, surga, neraka, iman kepada Allah SWT,  Rasulullah SAW dan segala yang hal di seputar  Islam. Sudahkan kalimat-kalimat tersebut disaat terucap di bibir, sekaligus dirasa oleh hati nurani kita.  Berapakali kita menghadiri diskusi tentang Islam, seminar tentang syariah, perencanaan dalam da'wah dan lain sebagainya. Sebarapa besar makna kedekatan kita kepada Allah SWT kita rasakan dari segala gebyar aktivitas tersebut. Teringat sabda nabi SAW, " Ada orang membaca al-Qur'an, akan tetapi  bacaannya tidak bisa melewati tenggorokannya." Artinya ada orang berbicara tentang perjuangan untuk Islam, syariat Islam, Allah SWT dan lain  sebagainya. Akan tetapi pembicaraan tersebut hanya bergema ditenggorokannya saja dan tidak bisa terus meresap kehati.

Ada orang yang sibuk diskusi tentang Islam dan berbicara tentang pemikiran Islam dan Islam akan tetapi diskusi dan pembicaraan tersebut hanya berputar-putar diseputar otak kepalanya dan tidak bisa di hayati oleh hatinya. Ada orang yang lantang suaranya mengajak orang lain kepada Allah SWT dengan metode penyampaian yang amat menarik, akan tetapi ajakan tersebut hanya untuk orang lain sementara hatinya sendiri tidak merasa terpanggil untuk menyambut ajakan tersebut. Itulah orang-orang yang didustakan oleh Allah SWT kelak di Akherat. Di dunia mempunyai gelaran kebesaran dalam urusan agama, akan tetapi gelar-gelar tersebut tidak mereka ketemukan di akhirat.
Yang kita lakukan disaat ini dan disaat-saat yang telah lalu dari diskusi tentang Islam dan da'wah.

Yang sering kita suarakan dan kita perdengarkan kepada orang lain tentang iman, surga, neraka dan lain sebagainya. Sudahkan semua itu menjadikan kita semakin takut kepada Allah SWT, semakin rindu kepada Allah SWT, semakin mengagungkan Allah SWT, Rasulullah SAW dan Islam? Pernahkah disaat kita mendiskusikan syari'at Islam, tiba-tiba kita mendengar suara adzan, lalu kita bergegas menyambut seruan muadzin untuk khusu' shalat berjamaah? Sudahkah kita yang disiang hari sibuk berbicara tentang ridha Allah SWT, surga dan kerinduaan kepada Allah SWT, lalu ditengah malam kita mengkhususkan waktu untuk memadu kasih dengan Allah SWT? Jika ini semua belum pernah kita lakukan, tanyakan kepada hati kita sendiri! Apa makna perjuangan kita tentang Islam, Allah SWT dan Rasulullah SAW  kalau bukan untuk menumbuh suburkan kerinduan kita kepada Allah SWT? Apa arti sebuah pemikiran tentang Islam, jika bukan untuk menjadikan kita rindu keselamatan di akhirat? Apa arti kalimat yang diucapkan oleh lidah kita tentang kecintaan kepada Allah SWT dan Islam, jika tidak kita sambung dengan merintih khusu' dalam ibadah kita kepada Allah SWT di sepinya malam?
Ya Allah, pencipta cinta dan kerinduan, jadikanlah kecintaan dan kerinduan kami hanya kepada-Mu dan karenamu!Ya Allah jadikanlah kami adalah orang-orang yang gemar menyampaikan kebenaran sekaligus mudah untuk mendengarnya! Ya Allah Jadikanlah kami orang-orang yang menyeru kepada kerinduan kepada-Mu dengan hati dan lidah kami!Ya Allah jadikanlah kami sebab rindunya hamba- hamba-Mu kepada-Mu! Wallahu a'lam bishshowab

< Prev           Next >


MAKNA KETULUSAN


Sahabatku, saat kita berbuat baik kepada tetangga atau tamu yang datang kerumah kita. Ada makna kebaikan yang harus di cermati untuk bisa disebut sebagai ketulusan. Ketulusan sendiri adalah hal yang amat lembut bersembunyi dilubuk hati dan bukan kata terucap dengan lidah.

Orang yang tidak berimanpun bisa berbuat baik kepada tetangga dengan memberi pertolongan, penghormatan atau santunan materi. Artinya berbuat baik kepada sesama itu hal yang lazim di lakukan, baik bagi yang beriman atau yang tidak beriman.

Yang harus senantiasa kita cermati adalah hal yang akan menjadikan kebaikan itu bermakna adalah Ketulusan, yaitu perbuatan baik yang semata-mata kita lakukan hanya mengharap balasan dari Allah SWT.

Hati-hatilah!! Ternyata dalam Ketulusan ada virus yang menghancurkan makna ketulusan, virus yang amat halus, sehalus ketulusan itu sendiri. Virus tersebut adalah Riyak, atau maksud yang tersembunyi di balik sebuah kebaikan yang dilakukan. Rasulullah SAW pernah menggambarkan virus tersebut seperti“ lembutnya langkah semut hitam yang berjalan dikegelapan malam di atas batu hitam “

Dan kita mungkin tidak menyadari atau bahkan tidak merasakan kapan masuknya virus tersebut, tiba-tiba sudah ada didalam hati.

Sahabatku saat kita berbuat baik kepada seseorang, namun terasa perbedaan dihati kita saat orang tersebut bersyukur kepada kita atau tidak bersyukur. Atau jika senyum orang yang kita santuni ada makna dihati kita, itu artinya ketulusan kita telah terjangkit virus Riyak. Jika kita masih membedakan peminta-minta yang datang kerumah kita jika dengan segala kesopananya lalu kita beri sementara yang lain datang dengan kurang sopan lalu tidak kita beri  itu artinya ada virus Riyak menjangkit ketulusan kita.

Sadarilah!! Orang yang tidak tulus akan capek dengan kebaikannya. Begitu sebaliknya ketulusan akan menjadikan pelaku kebaikan dalam puncak kepuasan hati.

Saat kita berbuat baik kepada tetangga hanya sebagai basa-basi sosial dan hanya mengharap balasan kebaikan dari tetangga, baik berupa materi atau sekedar penjagaan rumah yang kebetulan berdampingan. Disaat kebaikan yang dinanti dari tetangga tidak kunjung didapat, maka rasa jengkel tersembunyi akan menguasai hati kita dan menghantarkan kita untuk menghitung-hitung kebaikan yang pernah kita lakukan.

Atau jika Anda seorang Ustadz yang berceramah atau mengajar jika di balik perjuangan ini  yang diharapkan adalah imbalan, baik materi atau sekedar sambutan penghornmatan. Maka sungguh akan teramat sangat Lelah jika ternyata semua itu tidak didapat. Berbeda dengan orang-orang yang tulus, mereka akan melakukan segala kebaikan dengan penuh kepuasan dan harapan ridho Allah SWT. Tidak merasa sakit jika tetangga yang di perlakukan baik tidak mengerti arti terimakasih . Tidak merasa gundah disaat kebaikan mereka tidak dilihat dan dihargai oleh manusia. Sebab mereka hanya ingin kebaikannya dilihat oleh Allah SWT Yang Maha Melihat apa yang ada dihati hamba-hambanya.

Wallahu a'lam bissawab.



DAHULUKAN ALLAH



Suatu ketika di saat ada seorang ibu yang menemukan putranya sakit, ia bergegas mengangkat telephon dan menelepon sebuah balai pengobatan untuk mendaftarkan anaknya agar mendapatkan antrian terdepan. Begitu juga seorang pedagang yang dengan kecerdasannya membidik tempat-tempat strategis dan saat yang tepat untuk berdagang. Atau seorang ustadz yang begitu disiplin membuat program da'wah dengan membuat beberapa sarana media da'wah. Dari semua yang dilakukan oleh seorang ibu, pedagang dan ustadz adalah suatu hal yang amat dibenarkan dalam sebuah usaha. Akan tetapi disaat kita hadapkan kepada nilai keimanan dan kerinduan kepada Allah SWT, usaha-usaha itu akan menjadi tidak ada maknanya jika tidak dibarengi dengan sebuah kesadaran akan kelemahannya dalam mencapai sebuah keberhasilan. Dan dengan penuh kerendahan hati memohon kepada Allah SWT agar memberikan kesembuhan kepada sang putra, memajukan usahanya, memberikan ilmu manfaat kepada para santri dan umat.

Akan tetapi alangkah seringnya kita tertipu oleh akal kita sehingga sering kali kita melupakan Allah SWT dalam segala usaha. Siapa di antara kita yang di saat hendak membuka toko lalu mendahulukan wudhu, kemudian shalat dua raka'at dan memohon agar dimudahkan usahanya oleh Allah SWT? Siapa diantara kita yang di saat mengajak orang kepada kebaikan, mendahulukan shalat dua raka'at atau bangun di tengah malam, memohon kepada Allah SWT demi kebaikan orang yang diajak?

Sungguh  seorang ustadz disaat giat mengajar atau memberi pengajian, ketulusanya amat diragukan jika ia tidak pernah memohon kepada Allah SWT untuk umat dan santri. Sungguh dikhwatirkan kekeroposan iman seorang ibu jika ternyata yang di matanya hanya usaha dhahir sementara Allah SWT tidak pernah hadir di hatinya. Sungguh seorang pedagang amat dikhwatirkan akan maksud yang tersembunyi dibalik usahanya jika dalam usahanya tidak pernah hadir kerinduan kepada bantuan Allah SWT.

Yang menyeru kepada Allah SWT tanpa sebuah ketulusan akan menghadirkan kemunafikan. Yang mencari kekayaan tanpa maksud yang baik akan mengantarkan kepada kesombongan. Yang berobat dan mencari kesehatan tanpa dibarengi rasa ketergantungannya kepada Allah SWT akan mengikis ketawakalan dan kesabaran.

Wallahu a'lam bissawab.

Selasa, 01 Januari 2013

Orang Cerdas Ingat Mati

Sahabatku,bersama hari hari yang kita lalui,pernahkah kita merenung sejenak tenteng sebuah perjalanan?perjalanan yang kita tempuh dan dipenghujung jalan itu hanya ada dua pilihan yaitu bahagia dan sengsara.Yang berbahagia adalah yang senantiasa mempersiapkan diri untuk perjalanan tersebut dan yang sengsara adalah yang melalaikan persiapan dalam perjalananya.Yaitu perjalanan panjang yang akan kita lalui setelah kehidupan didunia ini.Perjalanan menuju alam barzah,alam kubur,alam penantian kita menuju hari kebangkitan dan hari pembalasan.


Alam barzah adalah alam yang sangat mengerikan bagi yang tidak mempunyai bekal dan kawan.Bekal dan kawan ya adalah ,amal baik yang tulus diperbuat saat didunia.Yang tersiksa didunia dengan segala musibah dan kekurangan,akan tetapi mereka mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati,sungguh kesusahan itu amatlah sebentar hanya 60 tahun atau 100 tahun saat didunia,dan setelah itu kesusahan akan berakhir saat memasuki alam barzah,dan disepanjang menanti dialam barzah ia menemukan kebahagian buah dari kebaikan  yang ditanamnya saat didunia,kebahagian itu akan terus berlanjut sampai alam akhirat yang tidak hanya puluhan  tapi ratusan tahun akan tetapi kebahagian yang tiada akhirnya.

Sahabat,bagi kita yang lalai saat didunia ini dari berbekal diri menuju alam barzah dan alam akhirat,ia akan menemukan kesusahan yang amat panjang,ia akan menuai dosa dosa yang yang ia perbuat saat didunia,kebahagian didunia akan berlalu,harta yang dikumpulkan tidak berguna lagi,kekuasaan yang ia bela tidak bisa menyelamatkanya,yang ada hanyalah tanggung jawab,alangkah ruginya bila orang hanya mengejar kesenangan sementara hanya puluhan tahun dan setelah itu ia akan menuai kesengsaran dialam penantian yaitu alam barzah hingga kelak dialam akhirat yang tiada batasnya.

Pernahkah kita renungi selama ini,lalu kita hadapkan dengan kehidupan kita sehari hari.Kita yang menjadi ustad sudahkah kita hadirkan makna kerinduan mencari kebahagiaan yang abadi dibalik tugas kita ini,Kita yang pedagang dan pengusaha sudahkah kita hadirkan makna kecintaan kita terhadap kebahagiaan yang hakiki diakhirat dibalik aktivitas berdagang kita?
Kita yang pejabat sudahkah kita hadirkan makna tanggung jawab kelak diakhirat dibalik kekuasaan yang kita emban?

Sahabatku,pernahkah kita berfikir tentang diri ini,disaat ini,dimasa depan yang panjang?
Apa yang kita kerjakan saat ini?Dan kelak apa yang akan kita petik setelah kematian buah dari apa yang kita kerjakan saat ini?

Nabi bersabda,''orang cerdas adalah orang yang senantiasa berfikir dan berbuat untuk setelah kematian,''kematian pasti akan tiba yang datangnyapun tanpa pesan terlebih dahulu dan tidak bisa ditunda walaupun sesaat,takutlah kita jika kematian menjelang,sementara kita termasuk orang yang bergelimang dosa dan tanpa bekal''.

waallahu a'lam bissawab

Template by : kendhin x-template.blogspot.com