Sahabatku, "Rasa malu adalah sebagian dari iman". Kalimat ini adalah sebagian dari sabda Nabi SAW. Namun terkadang kita mungkin sering salah dalam mengartikan dan menempatkan perasaan malu kepada keadaan yang sebenarnya. Sebagai contoh kita merasa malu saat harus mengenakan pakaian yang tidak bermerek, kendaraan tempo dulu, Handphone jadul, dan seabreg perangkat lainnya atau yang ketinggalan zaman. Tetapi pernahkah kita bertanya kepada hati kecil kita, apakah ini rasa malu yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ?
Category
- Artikel Islam (1)
Halaman
Total Tayangan Halaman
Diberdayakan oleh Blogger.
Translate
Software Populer
Mengenai Saya
Pengikut
Browser
Loading...
" target="_blank">
Senin, 28 Januari 2013
ANTARA IMAN DAN KESOMBONGAN
Sahabatku, "Rasa malu adalah sebagian dari iman". Kalimat ini adalah sebagian dari sabda Nabi SAW. Namun terkadang kita mungkin sering salah dalam mengartikan dan menempatkan perasaan malu kepada keadaan yang sebenarnya. Sebagai contoh kita merasa malu saat harus mengenakan pakaian yang tidak bermerek, kendaraan tempo dulu, Handphone jadul, dan seabreg perangkat lainnya atau yang ketinggalan zaman. Tetapi pernahkah kita bertanya kepada hati kecil kita, apakah ini rasa malu yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ?
Diposting oleh
Unknown
di
22.24
0
komentar
Sabtu, 12 Januari 2013
RASA MALU ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN
Sahabatku, "Rasa malu adalah sebagian dari iman". Kalimat ini adalah sebagian dari sabda Nabi SAW. Namun terkadang kita mungkin sering salah dalam mengartikan dan menempatkan perasaan malu kepada keadaan yang sebenarnya. Sebagai contoh kita merasa malu saat harus mengenakan pakaian yang tidak bermerek, kendaraan tempo dulu, Handphone jadul, dan seabreg perangkat lainnya atau yang ketinggalan zaman. Tetapi pernahkah kita bertanya kepada hati kecil kita, apakah ini rasa malu yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ?
Diposting oleh
Unknown
di
16.20
0
komentar
KERAKUSAN DAN KEFAKIRAN TERSEMBUNYI
Sahabatku, pernahkah kita merenungi nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita?
Semenjak kita dilahirkan atau bahkan semenjak terbentuknya segumpal darah di perut ibunda kita hingga detik ini. Allah SWT dengan Kasih dan Rahmat-Nya tiada henti-hentinya mencurahkan nikmatNya kepada kita. Baik nikmat yang pernah dan selalu kita pinta atau yang tidak pernah kita pinta.
Akan tetapi kenapa semakin hari kita terus merasakan kekurangan ? Padahal jika kita melihat baju yang kita kenakan, makanan yang kita makan saat ini , semua jauh lebih baik jika kita banding dengan masa-masa lalu. Dahulu orang tidak merasa malu mengenakan baju yang bertambal atau makan hanya dengan ikan asin atau telor dadar yang kadang dicampur dengan tepung untuk bisa dibagi dengan saudara yang lainnya. Kendaraan hanya Delman atau Sepeda, namun justru yang demikian itu amat terasa sekali bahwa itu adalah nikmat besar dari Allah SWT.
Akan tetapi kenapa disaat kemudahan diberikan oleh Allah SWT, beraneka ragam makanan masuk ke perut dan kendaraan yang bermacam-macampun bisa dinikmati, yang ada adalah justru "merasa kurang"! Jangankan bersyukur, menyadari kalau itu adalah nikmt saja belum bisa.
Jika benar hal ini terjadi , maka ada sesuatu yang rusak dalam program hati kita, yaitu adanya Virus Ketamakan yang akan menjadikan kita kebal nikmat hingga tidak bisa bersyukur walaupun Allah SWT telah memberi kita banyak nikmat. Virus yang akan menjadikan orang kaya seperti tidak punya apa-apa. Virus yang sangat merusak kinerja hati kita.
Sahabatku,kalau kita teliti dengan hati, ternyata Ada tiga hal yang menyebabkan virus tersebut masuk ke hati kita, yaitu,
Pertama, kurang merenungi nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Maka yang tidak merenungi nikmat Alah SWT tidak akan bisa mengagungkan nikmat tersebut, dan yang tidak bisa mengagungkan nikmat tidak akan bisa mensyukurinya.
Kedua, selalu melihat kepada orang yang diberi kelebihan oleh Allah SWT dalam urusan dunia. Hal ini amatlah mempengaruhi ketamakan hati seseorang. Sehingga dengan berbagai cara mencari alasan untuk menjadikan dirinya butuh kepada hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkannya.
Ketiga, adanya kesombongan yang telah menjadikan seseorang gengsi melakukan kesederhanaan. Inginnya selalu dilihat dan diperhatikan oleh orang lain dengan segala kelebihan, baik dalam pekerjaan, cara berpakain, makanan minuman, tempat tinggal dan kendaraannya.
Padahal jika kita semua kembali kepada, kesederhanaan dan ketawadhuan yang diajarkan oleh Rosulullah SAW maka tidaklah kita akan tersiksa dengan gengsi dan gaya hidup. Dan jika kita mendahulukan yang halal dan di ridhohi Allah SWT maka tidaklah kita akan tersiksa dengan kesederhanaan dalam hidup kita
Sunnguh… Jika kesadaran akan hal ini telah ada di hati kita,
Maka menjadi tukang becak dan tukang kebun jauh lebih mulia dari seorang Direktur yang Korup.
Menjadi tukang batu jauh lebih mulia dari seorang Ustadz yang menjual agamanya demi dunia.
Menjadi pekerja yang jujur jauh lebih mulia dari seorang Saudagar yang curang.
Dan pergi kesawah jauh lebih mulia walau tersengat panasnya matahari, daripada bekerja di ruangan ber-AC akan tetapi dimurkai oleh Allah SWT.
Begitu juga jika menjadi orang kaya menjadilah orang kaya yang di ridhoi oleh Allah karena kaya yang tidak tamak. Menjadi ustadz yang mulya di hadapan Allah karena tidak tamak. Dan menjadi apapun menjadilah orang kaya yang sesungguhnya yaitu kaya hati dengan menjadi orang tidak rakus akan dunia dan pandai mensyukuri nikmat.
Wallahu a'lam bissawab
Semenjak kita dilahirkan atau bahkan semenjak terbentuknya segumpal darah di perut ibunda kita hingga detik ini. Allah SWT dengan Kasih dan Rahmat-Nya tiada henti-hentinya mencurahkan nikmatNya kepada kita. Baik nikmat yang pernah dan selalu kita pinta atau yang tidak pernah kita pinta.
Akan tetapi kenapa semakin hari kita terus merasakan kekurangan ? Padahal jika kita melihat baju yang kita kenakan, makanan yang kita makan saat ini , semua jauh lebih baik jika kita banding dengan masa-masa lalu. Dahulu orang tidak merasa malu mengenakan baju yang bertambal atau makan hanya dengan ikan asin atau telor dadar yang kadang dicampur dengan tepung untuk bisa dibagi dengan saudara yang lainnya. Kendaraan hanya Delman atau Sepeda, namun justru yang demikian itu amat terasa sekali bahwa itu adalah nikmat besar dari Allah SWT.
Akan tetapi kenapa disaat kemudahan diberikan oleh Allah SWT, beraneka ragam makanan masuk ke perut dan kendaraan yang bermacam-macampun bisa dinikmati, yang ada adalah justru "merasa kurang"! Jangankan bersyukur, menyadari kalau itu adalah nikmt saja belum bisa.
Jika benar hal ini terjadi , maka ada sesuatu yang rusak dalam program hati kita, yaitu adanya Virus Ketamakan yang akan menjadikan kita kebal nikmat hingga tidak bisa bersyukur walaupun Allah SWT telah memberi kita banyak nikmat. Virus yang akan menjadikan orang kaya seperti tidak punya apa-apa. Virus yang sangat merusak kinerja hati kita.
Sahabatku,kalau kita teliti dengan hati, ternyata Ada tiga hal yang menyebabkan virus tersebut masuk ke hati kita, yaitu,
Pertama, kurang merenungi nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Maka yang tidak merenungi nikmat Alah SWT tidak akan bisa mengagungkan nikmat tersebut, dan yang tidak bisa mengagungkan nikmat tidak akan bisa mensyukurinya.
Kedua, selalu melihat kepada orang yang diberi kelebihan oleh Allah SWT dalam urusan dunia. Hal ini amatlah mempengaruhi ketamakan hati seseorang. Sehingga dengan berbagai cara mencari alasan untuk menjadikan dirinya butuh kepada hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkannya.
Ketiga, adanya kesombongan yang telah menjadikan seseorang gengsi melakukan kesederhanaan. Inginnya selalu dilihat dan diperhatikan oleh orang lain dengan segala kelebihan, baik dalam pekerjaan, cara berpakain, makanan minuman, tempat tinggal dan kendaraannya.
Padahal jika kita semua kembali kepada, kesederhanaan dan ketawadhuan yang diajarkan oleh Rosulullah SAW maka tidaklah kita akan tersiksa dengan gengsi dan gaya hidup. Dan jika kita mendahulukan yang halal dan di ridhohi Allah SWT maka tidaklah kita akan tersiksa dengan kesederhanaan dalam hidup kita
Sunnguh… Jika kesadaran akan hal ini telah ada di hati kita,
Maka menjadi tukang becak dan tukang kebun jauh lebih mulia dari seorang Direktur yang Korup.
Menjadi tukang batu jauh lebih mulia dari seorang Ustadz yang menjual agamanya demi dunia.
Menjadi pekerja yang jujur jauh lebih mulia dari seorang Saudagar yang curang.
Dan pergi kesawah jauh lebih mulia walau tersengat panasnya matahari, daripada bekerja di ruangan ber-AC akan tetapi dimurkai oleh Allah SWT.
Begitu juga jika menjadi orang kaya menjadilah orang kaya yang di ridhoi oleh Allah karena kaya yang tidak tamak. Menjadi ustadz yang mulya di hadapan Allah karena tidak tamak. Dan menjadi apapun menjadilah orang kaya yang sesungguhnya yaitu kaya hati dengan menjadi orang tidak rakus akan dunia dan pandai mensyukuri nikmat.
Wallahu a'lam bissawab
Diposting oleh
Unknown
di
15.55
0
komentar
SEBUAH KESIASIAN
Sebuah kelompok atau seseorang yang tersesat dalam ilmu dan amalnya akan ditandai dengan kesombongan akan keakuanya dan begitu mudahnya meremehkan yang lainya. Maunya menyalahkan, menfitnah dan menggunjing kelompok atau orang lain. Atau paling tidak akan menyimpan kebencian dan kegembiraan tersembunyi jika ada musibah menimpa orang atau kelompok lain. Tiada sapa, teguran beradap, prasangka baik dan upaya indah untuk menjadikan yang lainya baik.
Sebaliknya, ahli ilmu dan amal baik yang sesungguhnya dan ahli istiqomah yang tulus akan semakin tawdhu' dan merendah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang telah mempunyai ilmu dengan ketulusan akan selalu melihat orang lain yang terjerumus dengan mata kasih dan rindu untuk bisa menolongnya. Senantiasa memohon kepada Allah agar dirinya menjadi sebab baiknya orang lain,agar pintu hidayah segera dibukakan untuknya. Kepada orang berilmu yang lainya akan sangat menghargai dan mencintainya. Jika ada yang berhasil dari mereka akan berbangga dan bersyukur. Dan disaat melihat orang lain yang berilmu belum terlihat berhasil atau prestasinya dibawahnya dalam keberhasilan akan ia bantu dan perjuangkan agar bisa maksimal dalam keberhasilannya.
Atau kemudahan dalam berdakwah lalu kita senantiasa takut jika ini semua menjadi tidak bermanfaat dan tidak di terima oleh Allah? Dan alangkah sia-sianya usaha kita jika buah ilmu kita tidak bisa kita petik di akhirat. Alangkah mengerikanya jika gelar ustad, kiyai, orang soleh, penghafal alquruan, ahli fiqih, ahli hadits dan lain sebagainya hanya kita peroleh di dunia sementara di akhirat kita didustakan dan di tolak gelar-gelar tersebut oleh Allah SWT. Pernahkah kita merenung, apakah ilmu dan amal yang diberikan oleh Allah kepada kita telah menjadikan kita semakin dekat dan takut kepada Allah atau justru kita bertambah kurang ajar dan jauh dari Allah? Pernahkah kita berfikir apakah amal dan ilmu kita telah menjadikan kita semakin mesra, indah dan saling mencintai kepada sesama? Adakah rasa kasih dan sayang terpancar dari ilmu kita disaat kita melihat saudara-saudara kita yang terjerumus dalam nistanya kemaksiatan? Atau justru amal dan ilmu tersebut telah menjadikan kita semakin sombong, memandang picik dan menghinakan mereka? Sudahkah kita insyaf untuk menjadi hamba yang beruntung yang senantiasa berfikir bagaimana amal dan ilmu kita bisa diterima oleh Allah ? Atau justru gebyar keberhasilan ilmu dan amal kita hanya menjadikan kita orang yang selalu berfikir bagaimana berilmu dan beramal saja tanpa ada kerinduan kepada Allah? Dan pernahkah selama ini kita berfikir untuk merenungi ini semua.
Wallahu 'alambisauwab
Sebaliknya, ahli ilmu dan amal baik yang sesungguhnya dan ahli istiqomah yang tulus akan semakin tawdhu' dan merendah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang telah mempunyai ilmu dengan ketulusan akan selalu melihat orang lain yang terjerumus dengan mata kasih dan rindu untuk bisa menolongnya. Senantiasa memohon kepada Allah agar dirinya menjadi sebab baiknya orang lain,agar pintu hidayah segera dibukakan untuknya. Kepada orang berilmu yang lainya akan sangat menghargai dan mencintainya. Jika ada yang berhasil dari mereka akan berbangga dan bersyukur. Dan disaat melihat orang lain yang berilmu belum terlihat berhasil atau prestasinya dibawahnya dalam keberhasilan akan ia bantu dan perjuangkan agar bisa maksimal dalam keberhasilannya.
Atau kemudahan dalam berdakwah lalu kita senantiasa takut jika ini semua menjadi tidak bermanfaat dan tidak di terima oleh Allah? Dan alangkah sia-sianya usaha kita jika buah ilmu kita tidak bisa kita petik di akhirat. Alangkah mengerikanya jika gelar ustad, kiyai, orang soleh, penghafal alquruan, ahli fiqih, ahli hadits dan lain sebagainya hanya kita peroleh di dunia sementara di akhirat kita didustakan dan di tolak gelar-gelar tersebut oleh Allah SWT. Pernahkah kita merenung, apakah ilmu dan amal yang diberikan oleh Allah kepada kita telah menjadikan kita semakin dekat dan takut kepada Allah atau justru kita bertambah kurang ajar dan jauh dari Allah? Pernahkah kita berfikir apakah amal dan ilmu kita telah menjadikan kita semakin mesra, indah dan saling mencintai kepada sesama? Adakah rasa kasih dan sayang terpancar dari ilmu kita disaat kita melihat saudara-saudara kita yang terjerumus dalam nistanya kemaksiatan? Atau justru amal dan ilmu tersebut telah menjadikan kita semakin sombong, memandang picik dan menghinakan mereka? Sudahkah kita insyaf untuk menjadi hamba yang beruntung yang senantiasa berfikir bagaimana amal dan ilmu kita bisa diterima oleh Allah ? Atau justru gebyar keberhasilan ilmu dan amal kita hanya menjadikan kita orang yang selalu berfikir bagaimana berilmu dan beramal saja tanpa ada kerinduan kepada Allah? Dan pernahkah selama ini kita berfikir untuk merenungi ini semua.
Wallahu 'alambisauwab
Diposting oleh
Unknown
di
15.47
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
-
▼
2013
(14)
-
▼
Januari
(14)
- HAKEKAT MENJALANKAN SUNAH NABI MUHAMAD SAW
- SLOGAN IBLIS''AKULAH YANG TERBAIK''
- ANTARA IMAN DAN KESOMBONGAN
- RASA MALU ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN
- KERAKUSAN DAN KEFAKIRAN TERSEMBUNYI
- SEBUAH KESIASIAN
- TERNYATA MENANGIS ITU INDAH
- JALINAN YANG PENUH MAKNA
- MUTIARA HIKMAH
- MEMPERMUDAH PERNIKAHAN
- ARTI SEBUAH KERINDUAN
- MAKNA KETULUSAN
- DAHULUKAN ALLAH
- Orang Cerdas Ingat Mati
-
▼
Januari
(14)