Sabtu, 12 Januari 2013

KERAKUSAN DAN KEFAKIRAN TERSEMBUNYI

Sahabatku, pernahkah kita merenungi nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita?


Semenjak kita dilahirkan atau bahkan semenjak terbentuknya segumpal darah di perut ibunda kita hingga detik ini. Allah SWT dengan Kasih dan Rahmat-Nya tiada henti-hentinya mencurahkan nikmatNya kepada kita. Baik nikmat yang pernah dan selalu kita pinta atau yang tidak pernah kita pinta.
Akan tetapi kenapa semakin hari kita terus merasakan kekurangan ? Padahal jika kita melihat baju yang kita kenakan, makanan yang kita makan saat ini , semua jauh lebih baik jika kita banding dengan masa-masa lalu. Dahulu orang tidak merasa malu mengenakan baju yang bertambal atau makan hanya dengan ikan asin atau telor dadar yang kadang dicampur dengan tepung untuk bisa dibagi dengan saudara yang lainnya. Kendaraan hanya Delman atau Sepeda, namun justru yang demikian itu amat terasa sekali bahwa itu  adalah nikmat besar dari Allah SWT.


Akan tetapi kenapa disaat kemudahan diberikan oleh Allah SWT, beraneka ragam makanan masuk ke perut dan kendaraan yang bermacam-macampun bisa dinikmati, yang ada adalah justru "merasa kurang"! Jangankan bersyukur, menyadari kalau itu adalah nikmt saja belum bisa.


Jika benar hal ini terjadi , maka ada sesuatu yang rusak dalam program hati kita, yaitu adanya Virus Ketamakan yang akan menjadikan kita kebal nikmat hingga tidak bisa bersyukur walaupun Allah SWT telah memberi kita banyak nikmat.  Virus yang akan menjadikan orang kaya seperti tidak punya apa-apa. Virus  yang sangat merusak kinerja hati kita.


Sahabatku,kalau kita teliti dengan hati, ternyata Ada tiga hal yang menyebabkan virus tersebut masuk ke hati kita, yaitu,
Pertama, kurang merenungi nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Maka yang tidak merenungi nikmat Alah SWT tidak akan bisa mengagungkan nikmat tersebut, dan yang tidak bisa mengagungkan nikmat tidak akan bisa mensyukurinya.


Kedua, selalu melihat kepada orang yang diberi kelebihan oleh Allah SWT dalam urusan dunia. Hal ini amatlah mempengaruhi ketamakan hati seseorang. Sehingga dengan berbagai cara mencari alasan untuk menjadikan dirinya butuh kepada hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkannya.
Ketiga, adanya kesombongan yang telah menjadikan seseorang gengsi melakukan kesederhanaan. Inginnya selalu dilihat dan diperhatikan oleh orang lain dengan segala kelebihan, baik dalam pekerjaan, cara berpakain, makanan minuman, tempat tinggal dan kendaraannya.


Padahal jika kita semua kembali kepada, kesederhanaan dan ketawadhuan yang diajarkan oleh Rosulullah SAW maka  tidaklah kita akan tersiksa dengan gengsi dan gaya hidup. Dan jika  kita mendahulukan yang halal dan di ridhohi Allah SWT maka tidaklah kita akan tersiksa dengan kesederhanaan dalam hidup kita

Sunnguh… Jika kesadaran akan hal ini telah ada di hati kita,
Maka menjadi tukang becak dan tukang kebun jauh lebih mulia dari seorang Direktur yang Korup.
Menjadi tukang batu jauh lebih mulia dari seorang Ustadz yang menjual agamanya demi dunia.
Menjadi pekerja yang jujur jauh lebih mulia dari seorang Saudagar yang curang.

Dan pergi kesawah jauh lebih mulia walau tersengat panasnya matahari, daripada bekerja di ruangan ber-AC akan tetapi dimurkai oleh Allah SWT.
Begitu juga jika menjadi orang kaya menjadilah orang kaya yang di ridhoi oleh Allah karena kaya yang tidak tamak. Menjadi ustadz yang mulya di hadapan Allah karena tidak tamak. Dan menjadi apapun  menjadilah orang kaya yang sesungguhnya yaitu kaya hati dengan menjadi orang tidak rakus akan dunia dan  pandai mensyukuri nikmat.


Wallahu a'lam bissawab

SEBUAH KESIASIAN

Sebuah kelompok atau seseorang yang tersesat dalam ilmu dan amalnya akan ditandai dengan kesombongan akan keakuanya dan begitu mudahnya meremehkan yang lainya. Maunya menyalahkan, menfitnah dan menggunjing kelompok atau orang lain. Atau paling tidak akan menyimpan kebencian dan kegembiraan tersembunyi jika ada musibah menimpa orang atau kelompok lain. Tiada sapa, teguran beradap, prasangka baik dan upaya indah untuk menjadikan yang lainya baik.

Sebaliknya, ahli ilmu dan amal baik yang sesungguhnya dan ahli istiqomah yang tulus akan semakin tawdhu' dan merendah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang telah mempunyai ilmu dengan ketulusan akan selalu melihat orang lain yang terjerumus dengan mata kasih dan rindu untuk bisa menolongnya. Senantiasa memohon kepada Allah agar dirinya menjadi sebab baiknya orang lain,agar pintu hidayah segera dibukakan untuknya. Kepada orang berilmu yang lainya akan sangat menghargai dan mencintainya. Jika ada yang berhasil dari mereka akan berbangga dan bersyukur. Dan disaat melihat orang lain yang berilmu belum terlihat berhasil atau prestasinya dibawahnya dalam keberhasilan akan ia bantu dan perjuangkan agar bisa maksimal dalam keberhasilannya.

Atau kemudahan dalam berdakwah lalu kita senantiasa takut jika ini semua menjadi tidak bermanfaat dan tidak di terima oleh Allah? Dan alangkah sia-sianya usaha kita jika buah ilmu kita tidak bisa kita petik di akhirat. Alangkah mengerikanya jika gelar ustad, kiyai, orang soleh, penghafal alquruan, ahli fiqih, ahli hadits dan lain sebagainya hanya kita peroleh di dunia sementara di akhirat kita didustakan dan di tolak gelar-gelar tersebut oleh Allah SWT. Pernahkah kita merenung, apakah ilmu dan amal yang diberikan oleh Allah kepada kita telah menjadikan kita semakin dekat dan takut kepada Allah atau justru kita bertambah kurang ajar dan jauh dari Allah? Pernahkah kita berfikir apakah amal dan ilmu kita telah menjadikan kita semakin mesra, indah dan saling mencintai kepada sesama? Adakah rasa kasih dan sayang terpancar dari ilmu kita disaat kita melihat saudara-saudara kita yang terjerumus dalam nistanya kemaksiatan? Atau justru amal dan ilmu tersebut telah menjadikan kita semakin sombong, memandang picik dan menghinakan mereka? Sudahkah kita insyaf untuk menjadi hamba yang beruntung yang senantiasa berfikir bagaimana amal dan ilmu kita bisa diterima oleh Allah ? Atau justru gebyar keberhasilan ilmu dan amal kita hanya menjadikan kita orang yang selalu berfikir bagaimana berilmu dan beramal saja tanpa ada kerinduan kepada Allah? Dan pernahkah selama ini kita berfikir untuk merenungi ini semua.

Wallahu 'alambisauwab

TERNYATA MENANGIS ITU INDAH

Suatu ketika Rasulullah SAW becerita tentang seorang yang tampil sebagai yang merindukan Allah SWT. Sebagai yang menuju Ridho Allah SWT. Dan sebagai yang berharap kepada Allah SWT. Akan tetapi ia adalah orang yang tidak peduli terhadap dosa dan tidak pernah menyesali atas kesalahannya. Lalu Rosulullah berkata, "Bagaimana do'anya akan terkabul?" Bagaimana harapannya terpenuhi? Bagaimana kerinduannya terobati? Sementara dia adalah orang yang gemar dengan dosa, makan dan minumnya dari yang haram, serta berpakain dari yang haram.

Sahabatku dari gambaran perilaku tersebut bisa di fahami artinya ada yang menghalangi langkah-langkah kita menuju Allah SWT.  Dan ada yang menghambat perjalanan kita menuju Keridhoaan Allah SWT. Yang berjuang dengan sungguh-sungguh dalam menempuh jalan menuju Allah SWT akan menemui kesia-siaan  jika ia tidak sadar akan adanya penghalang serta berusaha untuk menghilangkannya. Penghalang itu adalah dosa dan untuk menghilangkannya adalah  dengan bertaubat. Maka taubat adalah hal pertama dan utama yang harus dilakukan bagi seseorang yang ingin menempuh jalan menuju Ridho Allah SWT. Dan yang bisa bertaubat, hanyalah orang yang pernah merenungi dosa-dosanya serta menyadari segala kesalahannya.

Renungkanlah wahai sahabat! Bagaimana bisa bertaubat orang yang tidak pernah menyesali dosa-dosanya dan bagaimana bisa menyesal orang yang tidak pernah merenungi kesalahannya. Merenungi bahwa kesalahan adalah sebab murka Allah SWT. Dan jika Allah SWT murka  maka Allah SWT akan menyiksanya.


Sungguh dosa sebesar apapun jika disesali lalu memohon ampun dengan sungguh-sungguh maka Allah SWT akan mengampuni. Begitu juga dosa sekecil apapun jika tidak pernah disesali maka Allah SWT tidak akan mengampuni. Yang telah bertaubat akan kembali bersih seperti yang belum pernah berdosa. Yang telah bertaubat menjadikan Syaitan sangat menyesal dan kecewa tiada terkira. Bahkan satu hal yang menakjubkan bagi Rasulullah SAW adalah orang yang terjerumus dalam dosa dan maksiat, lalu ia bertaubat disaat ia masih mudah dan memeiliki banyak peluang untuk terus melakukan dosa tersebut .


Sahabatku,
Pernahkah kita merenung ? Jika kematian menjelang sementara dosa-dosa kita belum diampuni oleh Allah SWT.
Sudahkah kita sadari ? Jika dosa belum diampuni itu artinya Allah SWT akan menyiksa kita di alam barzah dan akan dilanjutkan dengan siksa di akhirat kelak.

Alangkah mengerikannya siksa dan murka Allah SWT.
Sudahkah kita menangis di tengah malam, saat kita mengadu kepada Allah SWT ?
Sudahkah kita menangis, saat kita teringat dosa-dosa?
Sudahkah kita mengangis di saat kita memohon ampun kepada Allah SWT?
Jangan ragu dengan Allah SWT! Allah SWT akan mengampuni dosa sebanyak apa pun jika kita menyesalinya. Dan Allah SWT tidak akan mengampuni dosa sekecil apa pun jika kita tidak menyesalinya.


Sungguh saat terindah adalah saat menitikan air mata penyesalan atas dosa-dosa.
Dan mata yang menangis karena takut murka Allah SWT tidak akan menangis lagi kelak di akhirat disaat mata-mata orang berdosa pada menangis.
Menangislah!Menangislah kerena dosa-dosa! Jika kita belum bisa menangis maka berusahalah terus untuk menangis. Dan jika kita masih tidak bisa mengangis maka menangislah karena kita telah tidak bisa menangis. Sebab saat itu hati kita teramat keras. Dan sungguh hati yang keras bukanlah lahan yang subur untuk menanam kerinduan dan cinta kepada Allah SWT. Hati yang keras akan subur dengan lumut ketakaburan yang hanya akan menjauhkan seseorang dari menerima dan menginsyafi kebenaran.

Menangislah wahai sahabatku untuk  untuk menyesali semua dosa- dosa yang telah kita perbuat.
Itulah tangisan indah, tangis Penyesalan.

Wallahua'lam..
 

JALINAN YANG PENUH MAKNA

Sahabatku, dalam sebuah kebersamaan akan terjalin sebuah persahabatan dan pertemuan. Akan tetapi, tidak semua dari yang bersahabat adalah sama-sama beruntung. Keberuntungan seseorang tersembunyi di balik kalbunya ketika menjalin persahabatan. Dua orang yang bersahabat, jika dibalik persahabatannya ini salah satu dari keduanya selalu berharap kemuliaan di Akhirat, sementara yang satu lagi tidak menjalin pesahabatan  kecuali hanya untuk keuntungan di dunia saja. Maka, walaupun keduanya sama-sama berangkat ke masjid, makan bersama atau bahkan tidur bersama,  akan tetapi apa yang didapat oleh keduanya tidaklah sama. Yang satu orang beruntung dan yang satunya lagi orang yang merugi.


Siapapun dari kita harus mencermati apa yang tersembunyi di balik kalbu kita. Ada apa di balik kedekatan kita dengan seorang sahabat ? Jika seorang Pejabat menjalin persahabatan dengan seorang Ustadz  maka yang paling beruntung adalah yang memanfaatkan kedekatan tersebut untuk mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah SWT. Dan alangkah celakanya jika sang Ustadz dekat dengan Penguasa atau Pejabat hanya mengharap keuntungan dunia.  Begitu juga alangkah ruginya jika seorang Pejabat yang dekat dengan ustadz hanya untuk kepentingan dunianya saja

Rasulullah SAW pernah bersabda " Bararangsiapa yang merendah kepada orang kaya ( berpangkat di dunia ) karena dunianya, maka telah hilang dua pertiga (nilai) keberagamaanya."

Ini adalah peringatan  dari Rasulullah SAW agar kita memahami makna sebuah kedekatan. Karena kejahatan hati amatlah tersembunyi dan tidak ada yang bisa mengoreksinya kecuali diri sendiri yang sering mencermatinya.


Sahabatku, dalam kesempatan lain Rasullah SAW juga pernah bercerita. Ada dua orang yang berbeda dalam  menjalani hidupnya. Yang pertama adalah orang yang terlihat baik karena kesehariannya hanya beribadah di atas gunung. Yang satu lagi adalah seorang pemuda, Preman pasar yang secara lahir adalah kotor dan jahat karena pekerjaaanya hanya membuat keributan dan mengganggu orang-orang dipasar. Dan, takdir Allah mempertemukan keduanya di suatu tempat.

Sang Ahli ibadah saat itu kehabisan bekal sehingga ia harus membeli bekal di tengah pasar. Pada saat yang bersamaan, sang Preman pasar berkeinginan untuk bisa dekat dengan Ahli Ibadah yang di atas gunung. Keduanya pun  menempuh tempat tujuan- masing  masing. Yang Ahli Ibadah turun ke Pasar dan Preman Pasar pun menuju ke atas gunung. Akhirnya keduanya bertemu disuatu tempat berpapasan di jalan setapak dikaki bukit. Sang preman merasa terkejut saat berpapasan dengan ahli ibadah tersebut.Yang ada dihatinya adalah rasa kagum dan hormat pada sang ahli ibadah.Sementara sang ahli ibadah melihat sang preman merasa risih sehingga ia tidak menyapanya dan mengucapkan salam kepadanya.Yang ada adalah kesombonganya karena ia merasa sudah menjadi ahli ibadah yang sangat jauh lebih baik  jika dibanding dengan sang Preman . Disaat itu ternyata Allah SWT mencabut hidayah dari sang Ahli ibadah dan memindahkanya kepada sang Preman Pasar.

Dalam hal ini Rasulullah SAW menjelaskan bahwa itu terjadi disebabkan sesuatu yang tersembunyi di hati mereka berdua. Yang ada di hati sang Preman disaat bertemu adalah makna pengagungan kepada ulama Allah , dengan penuh harap agar pertemuan tersebut menjadi sebab Allah SWT mencintainya. Berbeda  dengan yang dirasakan oleh sang Ahli ibadah, yang ada di dalam hatinya bukannya menghadirkan makna kerinduan kepada Allah SWT, akan tetapi hatinya penuh dengan kesombongan sebagai Ahli Ibadah. Akhirnya yang terjadi adalah rasa meremehkan kepada sang Preman dan  bukan melihatnya sebagai ladang amal baik dengan mengajaknya kepada kebenaran dan menjauhkanya dari kejahatan.
Sahabatku, Jelaslah dalam hal ini kita harus bisa mencermati setiap jalinan yang kita rajut.

Anda yang Ustadz, apa makna  kedekatan Anda dengan para Pejabat dan Pengusaha ?
Anda yang Pejabat, apa makna kedekatan Anda dengan para Ulama, Pengusaha dan Fakir miskin?
Anda yang Pengusaha, apa makna kedekatan Anda dengan para Pejabat, Ulama dan Fakir miskin ? Sudahkah Allah SWT hadir dalam jalinan Anda?

Wallahu a'lam bissawab.

  

Template by : kendhin x-template.blogspot.com